Mungkin.
Mungkin loh, ya.
Mungkin.
Mungkin loh, ya.
Y: “Heh, ke kampus sekarang!”
X: “Ujan ini loh….”
Y: “Makanya… cari pacar lah yang punya mobil, biar bisa antar jemput biar ga keujanan.”
X: “Nyari pacar apa supir?”
Y: “Pacar aja, pacar cuman job desc-nya kayak supir doang, nggak lebih.”
X: “Ujan gini keluar nambah-nambahin cucian kaos kaki aja.”
Y: “Btw, kamu sedia berapa kaos kaki?”
X: *bengong* “Berapa ya? Ya nggak ngitung kali.”
Y: “Aku bodo juga tanya itu.”
X: “Emang.”
Y: “Namanya otak ga dipake buat mikir ginian.”
X: “Otak dipake galau doang.” *ngakak*
Saya nggak paham, dengan hubungan beberapa orang yang saya kenal, yang dulu kemana-mana dan ngapa-ngapain selalu berkelompok. Mereka, orang-orang yang dulunya menebar-nebarkan aura eksklusif, yang seolah-olah tidak bisa dimasuki oleh yang lain.
Mungkin seperti halnya hubungan pertemanan pada umumnya. Saya nggak menampik kalau orang-orang yang dulunya dekat, di suatu waktu bisa terasa seperti orang asing. Karena hidup terus berjalan, kita berubah, orang-orang lain juga berubah. Seperti teman-teman bermain masa kecil di sekitar rumah, yang tiba-tiba menjadi asing ketika masing-masing menginjakkan kaki di bangku sekolah yang lebih tinggi.
Tapi perlu gitu, sampai menceritakan keburukan satu sama lain? Perlu gitu, menjelek-jelekkan satu sama lain di hadapan orang? Pasang-pasang status menyindir?
Ironisnya lagi, masing-masing merasa kalau ketidaksukaannya didukung oleh teman-teman yang lain, tanpa sadar bahwa ketika mereka membalikkan punggung, mereka juga dijelek-jelekkan.
Bah.
Kalau teman, ya…. Menurut saya…. Ini menurut saya, sih. Say it to her face. Nggak usah pakai main belakang. Nggak usah sindir-sindiran lewat status. Macam perkelahian anak SD saja. Itu kalau teman sih. Haha. Kalau masing-masing sudah merasa bukan teman lagi, ya itu urusan situ.
Ah, sebenernya ngapain juga saya ribut-ribut mengomel soal urusan orang di sini, ya?

Kenapa, kucing sayang, kenapa? Kenapa sampai sekarang kamu nggak mau saya uwel-uwel? Kenapa kamu harus galak sama saya? ><
Last weekend, mendonat di Baker’s King, nemenin orang galau yang butuh temen curcol.

Pokoknya bukan salah saya loh jadi knitted sweater di lantai bawah itu terbeli, siapa juga yang ngajakin ngecek diskonan, nyahahahaha.
Saya kan cuma jujur waktu dirimu tanya itu lucu apa nggak.