• Home

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Si pacar sedang diopname. Sudah hampir satu minggu dan kondisinya belum membaik juga. Dokternya bilang dia masih menunggu kiriman organ yang entah kapan datangnya. Tentu saja ketika saya bilang pacar di sini, maksud saya adalah si kotak besi berukuran lima belas inci yang setia menemani saya kemana-mana itu. Jadilah beberapa hari terakhir saya habiskan dengan melanjutkan rajutan tas yang tertunda, atau membaca tumpukan novel yang terus bertambah tanpa tahu kapan selesai dibaca.

Skripsi? Jangan tanya.

Sasaran pertama adalah novel Tere Liye yang saya beli di awal bulan Maret ini. Sebenarnya ketika itu, setelah galau cukup lama di antara deretan buku-buku Tere Liye, saya akhirnya memutuskan tidak jadi mengambil satu pun, dan membeli Ronggeng Dukuh Paruk serta Memoirs of Stientje. Tapi ketika sampai di kasir, ternyata novel yang paling menarik perhatian saya di antara buku-buku Tere Liye yang lain malah terpampang dengan manisnya. Akhirnya buku ini ikut juga masuk ke dalam keresek belanjaan.

(more…)

Kepala Kardus

kepala kardus

Pesenan Akhyar, kepala kardus. (haha)

Blogger Banci Statistik

Sebagai blogger banci statistik, setiap kali membuka dasbor blog, tulisan “Site Stats” itu memang selalu terlihat berkilau-kilau macam matanya Puss in Boots, memanggil-manggil minta dipencet.

Sebenernya blog abal-abal ini nggak istimewa juga sih kalau soal traffic pengunjung. Standarnya puluhan sampai sekitar seratusan per hari. Yang asik itu justru ngeliat darimana orang bisa sampai ke sini.

Di Site Stats-nya WordPress, ada dua kategori untuk itu. Pertama adalah Referrer. Di sini kita bisa ngeliat orang ngeklik link dari mana untuk sampai ke blog kita. Referrer saya biasanya dari link yang saya share di socmed, WordPress Dashboard-nya orang, atau dari komentar-komentar saya di postingan blog lain.

Kategori kedua itu Search Terms. Di sini, kita jadi tau kata kunci apa yang diketikkan orang di mesin pencari yang membuatnya sampai ke blog kita. Paling lucu sih mantengin Search Terms ini. Kata kunci yang dipakai suka aneh-aneh. Ada juga yang nggak nyambung sama sekali sama satu pun postingan di blog tapi entah kenapa bisa nyasar ke sini. (haha)

Nah, pertengahan bulan Januari kemarin, saya seperti biasa iseng-iseng buka Site Stats. Ternyata saya disambut oleh penampakan seperti ini di halaman tersebut:

statistik

apa yang terjadi? ada apa ini?

Reaksi pertama  kaget dong, jelas. Hal yang pertama terpikir adalah….

“apa yang udah saya lakukan jadi traffic-nya turun drastis?”

Tapi setelah dilihat lebih teliti, ternyata bukan penurunan yang terjadi, tapi justru kenaikan drastis, yang membuat statistik normalnya jadi sangat rendah sampai penampakannya seperti itu. Usut punya usut, ternyata menurut teman saya, postingan review Manusia Setengah Salmon ditwit sama Raditya Dika!

Pantas saja traffic langsung melonjak sampai tiga ribuan. Ternyata begini rasanya kalau blog ditwit seleb, terutama yang kita juga ngefans sama orangnya. Ternyata begini rasanya punya pengunjung sampai tiga ribu orang lebih. Pengalaman sekali seumur hidup deh kayaknya ini mah. (haha)

Hotarubi no Mori e (蛍火の杜へ)

hotarubi cover

Time might separate us some day. But, even still, until then, let’s stay together.

Movie yang diangkat dari manga berjudul sama, dari mangaka yang juga membuat Natsume Yuujinchou, Yuki Midorikawa. Bercerita tentang Hotaru, yang ketika berusia enam tahun pernah tersesat di hutan tempat dewa gunung dan youkai tinggal. Gambarnya khas sekali, youkai dengan topeng lucu. :D

hotarubi screenshot

Durasinya Hotarubi no Mori e ini pendek, cuma sekitar 45 menit, tapi seperti halnya kalau nonton Natsume Yuujinchou, nggak bisa berhenti ngikutin ceritanya, dan craving for more.

hotarubi screenshot

Midorikawa Sensei, you really know how to give us a beautiful and heart warming story, but yet rip our heart apart at the same time. T_T

Ribuan Piksel

Saya kira, semua foto itu sudah saya simpan dengan baik, disatukan dalam sebuah folder khusus di hardisk eksternal seorang teman. Bergiga-giga kenangan yang tak lagi muat dalam hardisk saya sendiri. Tapi rupanya ada beberapa potongan yang masih tersisa, bercampur dengan foto teman-teman kuliah, dan sukses membuat saya diserbu berbagai perasaan, ketika secara tidak sengaja melihatnya kembali.

Betapa melihat foto-foto dengan wajah tersenyum ternyata bisa begitu menyakitkan.

Harus saya akui, bahwa ketika saya memindahkannya saat itu, bukan semata karena saya membutuhkan ruang kosong di hardisk saya. Sekian persen diri saya mungkin sudah terlebih dahulu sadar, bahwa saya tidak akan sanggup melihat ribuan piksel itu bercerita di kepala saya, tentang apa yang dulu pernah terasa seperti rumah.

Kalian… pernah menjadi rumah buat saya. Tempat saya menemukan kakak yang nggak pernah saya punya. Menemukan saudara ketika saya nggak punya siapa-siapa saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.

Empat tahun yang lalu, kalian adalah sambutan paling ramah yang saya dapatkan. Tempat paling hangat yang saya punya. Di mana setiap minggu saya akan pulang, dan duduk bercerita bersama kalian.

(more…)