Si pacar sedang diopname. Sudah hampir satu minggu dan kondisinya belum membaik juga. Dokternya bilang dia masih menunggu kiriman organ yang entah kapan datangnya. Tentu saja ketika saya bilang pacar di sini, maksud saya adalah si kotak besi berukuran lima belas inci yang setia menemani saya kemana-mana itu. Jadilah beberapa hari terakhir saya habiskan dengan melanjutkan rajutan tas yang tertunda, atau membaca tumpukan novel yang terus bertambah tanpa tahu kapan selesai dibaca.
Skripsi? Jangan tanya.
Sasaran pertama adalah novel Tere Liye yang saya beli di awal bulan Maret ini. Sebenarnya ketika itu, setelah galau cukup lama di antara deretan buku-buku Tere Liye, saya akhirnya memutuskan tidak jadi mengambil satu pun, dan membeli Ronggeng Dukuh Paruk serta Memoirs of Stientje. Tapi ketika sampai di kasir, ternyata novel yang paling menarik perhatian saya di antara buku-buku Tere Liye yang lain malah terpampang dengan manisnya. Akhirnya buku ini ikut juga masuk ke dalam keresek belanjaan.




