Berawal dari perjalanan kembali ke Malang. Setelah turun dari pesawat ternyata saya harus terkatung-katung di bandara Juanda selama dua jam karena travel yang sudah saya pesan tidak juga menghubungi. Tempat mangkal si Om yang biasanya ngatur-ngatur angkutan travel langganan saya sudah sedikit berubah, dan biarpun dibilang sama kantor pusat kalau orang dari agen mereka masih di lokasi yang sama, tapi saya nggak juga menemukan si Om itu.
Bosan. Bosan. Bosan.
Bete. Bete. Bete.
Kantor pusat sudah ditelepon lagi dan saya diminta nunggu dihubungi sama orangnya mereka yang di bandara. Mana? Tetep aja nggak ada juga.
Untung biasa bawa novel kalau bepergian begini, jadi setidaknya ada yang bisa dilakukan selain memperhatikan satu persatu penumpang yang sepesawat sama saya tadi menghilang dari keramaian bandara.
Setelah dua jam duduk dan nggak juga ditelepon, keliling-keliling bandara nanyain setiap Om-om yang terlihat seperti agen travel dimana agen travel saya berkeliaran, ketemu adek angkatan yang baru turun pesawat dari Bontang, hampir nabrak orang pake troli, dan sms sana-sini, akhirnya ketemu juga. Tapi ini bukan si Om yang biasa, masih agak muda, dan dia bilang katanya habis ada sidak atau semacamnya jadi dia nggak bisa menghubungi. Eh, saya juga nggak ngerti lah. Tapi herannya pas saya udah di mobil dan komplain ke supir travelnya, si supir malah kaget pas tau saya terlantar selama dua jam dan bilang kalau yang tadi itu orang baru karena yang biasanya sakit, jadi mungkin masih kurang tanggap. Ealah, Mas, yang bener yang mana inih?
lanjutkan ceritanya…