• Posts tagged "death"

Blog Archives

Hobi Sakit Jiwa

Blogwalking malam ini membawa saya terdampar di banyak tempat. Dari mulai puisinya yang selalu membuat saya menahan napas dan terkagum-kagum dengan pilihan kata-katanya, postingan-postingan yang membuat saya tersenyum kecil, hingga postingan-postingan lucu di blog teman-teman yang membuat saya menahan geli. Cuma bisa ditahan, soalnya kalau saya tertawa terlalu keras bisa-bisa bangunin orang serumah. (haha)

Salah satu tempat terdampar saya adalah postingan tentang The Sims Social yang memang sedang ramai-ramainya dimainkan orang-orang di socnet yang saya dan Anda sudah sama-sama tau jadi nggak usah disebutin secara eksplisit lagi juga nggak apa-apa. (ninja) Nah, tau dong asal mulanya The Sims Social? Yap, dari game The Sims yang itu. Saya asumsikan saja kalian yang membaca tulisan ini sudah tau apa itu game The Sims ya, hehehe.

Postingan yang saya sertakan link-nya barusan itu membuat saya teringat dengan hobi sakit jiwa saya kalau main The Sims…. Iya, sakit jiwa…. Lebih dari sekedar suka mainin karakter default yang udah ada di sana terus ngacak-ngacak hidupnya, selingkuhin pasangan-pasangan, bikin orang broken heart, terus musuhan, sampe akhirnya didatengin dokter jiwa dan orang berkostum kelinci itu.

Hobi sakit jiwa saya yang lain adalah… bunuhin tetangga. (sawing_monkey)

iya dibunuh, tetangganya dibunuhin…

Bunga Liar Itu…

because when things turned up like this, it doubled… the pain, the regret, the sadness…

wildflower

warna segarnya melalaikan pandangan mata
akan kehidupan yang perlahan memudar darinya
hingga tinggal sesak berbalut pilu menekan dada
ketika ia tercerabut hingga ke akar

ketika hidup mulai mengkhianatimu
ketika sepi membekapmu dari belakang
dan tak ada peluk hangat menenangkan
atau sekedar genggam jemari membersamai

apakah pundakmu memang sudah tak mampu lagi menanggungnya, sayang?
bahkan untuk sekedar bertahan hidup…

Allohummaghfirlaha warhamha waafiha wafuanha. Ya Allah, mudahkan jalannya, ampuni dosanya, dan berikan dia tempat yang baik di sisi-Mu…. (tears)

Ya Allah, jauhkanlah kami dari rasa sedih dan putus asa, jadikan kami hamba-hambamu yang pandai bersyukur ya Allah, karena sungguh nikmatmu tak terhitung banyaknya…. (tears)

Sahabat saya, setelah kejadian itu langsung mengirim sms, memaksa saya berjanji untuk mengiriminya sms setiap hari, atau setidaknya membalas sms dia. Agar dia tahu saya masih ada. Agar dia tahu saya baik-baik saja. Hanya tak ingin, ketika orang terdekat berada di titik terbawah hidupnya, dan dia tidak tahu apa-apa, sampai semuanya terlambat….

sumber gambar

Kau Memanggilku Malaikat

kau memanggilku malaikat cover

Pengarang

Arswendo Atmowiloto

Penerbit

PT Gramedia Pustaka Utama

“Bu, ada malaikat…”

Orang memanggilnya malaikat maut. Tapi baginya yang dia lakukan hanyalah menjemput manusia-manusia yang sudah menjelang ajalnya, bukan mencabut nyawa mereka. Dia hanya menunggu, hingga waktu mereka telah tiba, mendengarkan apapun yang ingin mereka katakan, karena manusia biasanya tiba-tiba saja memiliki banyak sekali hal yang untuk dikatakan pada saat-saat ini. Baginya itu bukan tugas, seperti halnya apakah manusia akan mengatakan angin bertugas ketika bertiup, atau ombak laut bertugas ketika bergelombang, baginya seperti itulah hidup sejak awal.

Semua, tanpa kecuali, akan dijemputnya ketika mereka mulai menunjukkan tanda-tanda kematian. Ia tak pernah merasakan apapun kepada semua yang dijemputnya, tak tahu apa itu arti kangen, apa arti air mata, hingga ia bertemu Di. Ia tak pernah bertanya apakah ada malaikat lain seperti dia, hingga seorang ibu suatu ketika berkata ingin menjadi malaikat seperti dirinya.

Di yang berkata pernah melihatnya di masa lalu, padahal ia yakin tak seorang manusia pun pernah melihatnya selain di saat mereka akan meninggal. Di yang tak juga pergi ke tempat “persinggahan” sebelum waktunya pergi ke tempat berikutnya, kemana orang-orang mati pergi, namun malah tetap berkeliaran bersama orang-orang yang dikenalnya semasa hidup. Di yang membuatnya merasakan penasaran, dan kangen.

Saya nggak terlalu bisa menangkap esensi sesungguhnya dari novel ini, sebenarnya.  Apakah sebatas monolog seorang malaikat maut, ketika bertemu anomali dalam kehidupan datarnya menjemput nyawa manusia, atau menyangkut daya hidup yang ditulis ibu Tesarini seolah menulis tesis. Ataukah bisa jadi juga ini adalah transformasi pertanyaan-pertanyaan manusia tentang malaikat, seperti apakah malaikat, apakah ia punya perasaan, apakah malaikat maut tak merasakan apa-apa ketika menjemput nyawa manusia, dan semacamnya. Atau justru menyangkut semuanya?

Saya tidak begitu mengerti, tapi entah kenapa menikmati membaca buku ini. :D Suka cara penulisnya bercerita. :-)