Posts Tagged malang
Pempek Dewi
Pilihan pempek yang biasanya saya beli itu, kalau nggak mas-mas yang jual pake gerobak di depan gerbang Fapet, ya yang ada di depannya Pascasarjana. Tapi yang di depan Pascasarjana itu suka moody, suatu kali pempeknya keras nggak jelas, di kali lain malah kurang mateng gorengnya. Kalau pempek gerbang Fapet lebih lumayan. Standar pempek seharga Rp 1.400,00 per buah lah.
Nah, kan ceritanya saya lagi di Banjarmasin sekarang. Terus temen-temen di sini entah kenapa lagi pada hobi kulineran. Kalau jalan ngajaknya makan ke tempat yang belum pernah dicoba melulu. Salah satunya Pempek Dewi di Jl. A. Yani.

berbagai jenis pempek
West Border Quest [Part 1]
Posted by Faye in Friends, Travelling on February 21, 2011
Saya suka jalan-jalan. Untuk kesekian kalinya saya meminta kalian mengesampingkan fakta bahwa saya sering mabuk darat. Eh, lagian sekarang udah gak parah-parah amat kayak dulu kok.
Kembali ke masalah saya suka jalan-jalan….
Sudah lama sekali saya bercita-cita untuk bisa travelling bersama teman-teman, menggembel, atau mungkin istilah kerennya backpacking.
Jalan-jalan bersama keluarga, sudah pernah, sudah biasa. Jalan-jalan bersama teman-teman sekelas baik sewaktu SMA juga sering, herannya ga pernah bawa guru pendamping kayak anak-anak lain. Ah, sudahlah, lebih seru gitu juga.
Jalan-jalan sama anak-anak sekelas waktu kuliah juga udah pernah. Terus mau yang gimana?
Saya maunya yang pergi ke tempat yang jauh, yang harus nginep, terus keliling-keliling tempat itu, sama temen-temen, bego-begoan, bahkan nyasar-nyasar pun nggak apa-apa. Ya, ini mimpi saya yang saya ceritakan di postingan sebelum ini. Dikompori oleh cerita-cerita seru Ikal dan Arai yang keliling Eropa di novel Edensor, dan novel kolaborasi dua penulis favorit saya, Ninit Yunita dan Adhitya Mulya (juga dua penulis lain), Traveler’s Tale, saya semakin ingin merasakan yang namanya backpacking.
Maka di suatu hari di bulan Januari, di kantin perpustakaan di lantai bawah gedung kuliah, saya, Fifi, Gizh, Lidya, Jun, dan Vebru, merencanakan petualangan itu. Setelah obrolan panjang tentang mau kemana, naik apa, salah satu dari kami bilang, bahwa rencana ini jangan cuma jadi sekedar rencana, seperti rencana-rencana liburan lain yang jaraaaang sekali terealisasi. Akhirnya saat itu juga, kami berangkat ke stasiun untuk mencari info jadwal dan tarif kereta api.
Balada Idul Adha 2: Karnaval Qurban
Posted by Faye in Events, Friends, Travelling on November 23, 2010
Sebagaimana dua tahun sebelumnya, Idul Adha kali ini saya membolang lagi di wilayah sekitar Malang bersama teman-teman. Tujuan tahun ini tidak jauh-jauh, yaitu di Kecamatan Dau. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. Itu, tentu saja, bagi yang tumpangan yang dinaikinya tidak mogok karena jalan yang menanjak, serta tidak nyasar.
Masalah nyasar ini sudah merupakan kejadian yang tidak langka lagi kalau ada acara di luar kampus.
Rombongan berangkat hari Rabu pagi setelah sebelumnya berkumpul di kampus terlebih dulu. Angkot carteran yang saya tumpangi termasuk dalam kategori yang mogok.
Jadi ketika jalan mulai menanjak terus, supirnya memutuskan untuk berhenti beberapa kali, memperbaiki sesuatu dengan mesinnya, entah apa itu. Penumpang sih adem ayem saja, malah yang disuruh turun dulu sementara supir memperbaiki mesin itu memanfaatkan waktu buat foto-foto di tengah kebun-kebun dan sawah-sawah di pinggir jalan.
Setelah sampai di lokasi, panitia memutuskan untuk memulai acara terlebih dulu, karena tinggal satu angkot lagi yang nyasar dan kalau menunggu nanti terlalu lama. Panitia dibagi untuk masing-masing acara. Ada yang bertugas di bazaar baju murah dan pembagian sembako, ada yang bertugas menyembelih kambing, ada yang membantu pelayanan kesehatan gratis, ada yang mengajak anak-anak di sekitar sana bermain, dan tentu saja ada yang memasak untuk makan siang hari itu.
Saya, berhubung saya sesungguhnya bukan panitia, tapi nemenin aja daripada sia-sia di kosan sendirian (dan nemenin staf departemen saya yang ikut di situ
), akhirnya malah berkeliaran kesana kemari.
Awalnya sih sempet bantuin yang bagian masak, ngupas-ngupasin kelapa sebelum diparut, terus akhirnya semakin banyak yang datang dan rumah tempat kami masak jadi penuh. Akhirnya karena saya juga pengen liat semua bagian acara, saya ngambil kamera dan pergi ke TK tempat acara yang lain.
Balada Idul Adha
Seperti tahun-tahun sebelumnya sejak saya mulai kuliah, Idul Adha kali ini pun tentu saja saya habiskan di Malang. Terlebih lagi, tahun ini juga Idul Adha-nya nggak berdekatan dengan hari libur, sehingga otomatis liburnya ya cuma ketika hari H saja.
Biasanya saya akan ikut acara bakti sosial yang diadakan rohis kampus seperti dua tahun lalu, atau rohis fakultas seperti setahun yang lalu. Tapi tahun ini saya bukan panitia resmi, yang jadi panitia angkatan di bawah saya, saya cuma datang membantu ketika hari pelaksanaan sebagai sekretaris departemen yang baik.
Mungkin karena tidak sesibuk kemarin, juga karena beberapa teman sekelas yang sudah kabur pulang kota sejak hari Jum’at sore lalu kemudian apdet status di plurk, saya jadi pengen pulang juga
Tapi homesick saya bukan cerita utama kali ini.
*padahal udah panjang ngomongnya di atas*
Tau kan, kalau tahun ini ada perbedaan lagi tentang kapan Idul Adha-nya dilaksanakan? Ada yang berpendapat bahwa Idul Adha jatuh pada hari Selasa tanggal 16 November 2010, dan ada yang berpendapat bahwa Idul Adha jatuh pada hari Rabu tanggal 17 November 2010. Saya, seperti biasa, menelepon ke rumah sebelum memutuskan akan ikut yang mana.
Akhirnya positiflah bahwa saya ikut yang hari Selasa.
Selamat Idul Adha, kawan, baik yang merayakan di hari Selasa maupun hari Rabu
Kapan Pindah?
Adek Kos: “Mbak, kamar Mbak ini berapa harganya?”
Saya: *nyebutin harga*
Adek Kos: *uwel-uwel buku yang baru mau dipinjem* “Mbak…”
Saya: “Hmm?”
Adek Kos: “Mbak kapan pindah?”
Saya: “…”
*senyum malaikat*
“Nggak tau, ya. Sampai lulus palingan.”
*masih senyum malaikat*
“Emang kenapa? Sinyalnya bagus, ya, di sini?”
Adek Kos: “Iya, Mbak.”
Saya nggak marah atau gimana sih. Cuma sedikit kaget dan geli, kok ya itu anak ngomongnya langsung blak-blakan gitu, nanya saya kapan pindah supaya dia bisa nempatin kamar saya sekarang.
Anoo, sepertinya sih selama masih di kosan yang ini, Insya Allah nggak mau pindah kamar. Selain karena sinyal yang udah bagus untuk lantai bawah (yang mana saya nggak mau pindah ke atas karena berisiknya ampun-ampunan), siapa yang mau ngangkut barang-barang seabrek-abrek untuk pindahan? Itu buku yang tumplek blek di lemari sampai bingung mau dikemanain lagi, siapa coba yang mau ngangkat.
Saya mah males ngangkatin lagi dalam waktu dekat ini.
untung nyawamu udah kekumpul jadi gak...