Adek Kos: “Mbak, kamar Mbak ini berapa harganya?”
Saya: *nyebutin harga*
Adek Kos: *uwel-uwel buku yang baru mau dipinjem* “Mbak…”
Saya: “Hmm?”
Adek Kos: “Mbak kapan pindah?”
Saya: “…”
*senyum malaikat*
“Nggak tau, ya. Sampai lulus palingan.”
*masih senyum malaikat*
“Emang kenapa? Sinyalnya bagus, ya, di sini?”
Adek Kos: “Iya, Mbak.”
Saya nggak marah atau gimana sih. Cuma sedikit kaget dan geli, kok ya itu anak ngomongnya langsung blak-blakan gitu, nanya saya kapan pindah supaya dia bisa nempatin kamar saya sekarang.
Anoo, sepertinya sih selama masih di kosan yang ini, Insya Allah nggak mau pindah kamar. Selain karena sinyal yang udah bagus untuk lantai bawah (yang mana saya nggak mau pindah ke atas karena berisiknya ampun-ampunan), siapa yang mau ngangkut barang-barang seabrek-abrek untuk pindahan? Itu buku yang tumplek blek di lemari sampai bingung mau dikemanain lagi, siapa coba yang mau ngangkat.
Saya mah males ngangkatin lagi dalam waktu dekat ini.

Nggak hanya satu orang korbannya ternyata,