Hei kamu, yang dulu sering bermimpi bersamaku. Apa kabarmu? Hari-hari terakhir ini, aku teringat kita. Kita, dan mimpi-mimpi di sela buku kumpulan soal. Kala itu masa perjuangan, ya. Terutama bagi kita, yang sering kali ingin minggat dari rumah saat itu juga. xD Aku mungkin cukup beruntung tak bertemu setiap hari, tapi kala itu bahkan prospek kembalinya pun sudah cukup untuk membuatku ingin pergi. xD
Aku butuh usaha lebih keras, karena tak sepintar dirimu. Tapi semangatmu yang menggebu itu menular padaku. xD Lalu malam-malam itu, bersama guru-guru yang mau menemani kita belajar sampai malam, dan teman-teman yang entah kenapa juga mau menambah jam belajar ketika kelas telah usai. Lalu dua orang gila tapi pintar yang sering membantu kita, ahh… aku kangen kalian. Kangen sewaktu kita berfoto tak tahu malu di depan warung makan malam itu, dan meghitung sendiri di bon yang diberikan berapa yang harus kita bayar. xD
Kita yang mengejar mimpi bersama di ITB, lalu ditendang gajah bersama. Berjalan kaki dari ITB sampai alun-alun, menyusuri kota tua, dan sempat tersasar sampai ke Setiabudi karena salah naik angkot. xD Dan Kebun Raya Bogor yang luas itu kita susuri sama-sama, mengomentari sudut-sudut tempat sepasang kekasih kasak kusuk, bule lewat, dan betapa kasihannya kaktus-kaktus yang daunnya digores-goresi tangan-tangan jahil itu.
Kemudian kita berangkat mengejar mimpi masing-masing. Kamu dengan kegilaan tes STAN-mu, dan aku yang berangkat lagi ke Surabaya, demi tes Monbusho yang ampun-ampunan susahnya. xD Salah satu dari orang gila tapi pintar itu, yang sekarang calon dokter, waktu itu sudah berada di Surabaya, dan bukannya menyapa waktu menemuiku di sana, malah iseng mengikuti dari belakang. xD
Kita seperti orang yang tidak pernah puas ikut tes. Padahal sudah ada jaminan di universitas setempat. Tapi kita ingin pergi ya, demi mimpi yang lebih tinggi. Sampai pada tes yang kau juluki Senam Pagi Terus Nungging, dan takdir membawa kita ke Jawa Timur. Mimpi kita, menggembel berkeliling Jawa bersama, rasanya sudah tinggal menunggu waktu. Tapi kemudian lagi-lagi takdir bicara lain, dan kamu berangkat ke Bekasi.
Mimpi kita hidup sendiri terealisasi, dengan jalannya sendiri-sendiri. Juga mimpi berikutnya. Ya, tentang petualangan itu. Kamu lebih dulu. Selalu seperti itu. xD Dan aku menunggu, dan masih bermimpi, sampai akhirnya aku bisa menggenggamnya. Sampai sudah kugenggam, dan tidak akan kulepas lagi.
akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat
apakah kau masih akan berkata “kudengar detak jantungmu”
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
Puisi favorit itu, lagu itu, film itu, buku itu. Betapa kita mengagumi sosok Gie, dan betapa inginnya kita mejejakkan kaki di Mandalawangi. Dan hei, kau sudah mendahuluiku berangkat ke sana. Sewaktu kau pamit waktu itu, sungguh aku ingin sekali menyusulmu! xD Kapan-kapan, suatu saat, ya…. Pasti! xD Dan puncak tertinggi pulau Jawa itu juga! xD

Puas soalnya jalan ini film keren banget.

.