Posts Tagged novel

Manusia Setengah Salmon

Dua postingan yang lalu saya membahas Stand Up Comedy-nya Raditya Dika. Kali ini saya mau membahas buku terbarunya, Manusia Setengah Salmon. Seperti biasa, ada nama hewan ikut-ikutan numpang tenar di judul buku. (okok) Buku ini saya dapatkan dari hasil menyeret-nyeret seorang teman ke Toga Mas di hari peluncurannya, 24 Desember, yang ternyata di Toga Mas saat itu belum ada jadi kita loncat ke Gramedia di daerah Basuki Rahmat. Khukhukhu…. (goodluck)

manusia setengah salmon

The pains of growing up. ‘Pindah’ menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri.

Sebagai pembaca buku-bukunya sejak zaman Kambing Jantan, saya merasa ada yang berubah dari gaya penulisan Raditya Dika dari buku ke buku. Kambing Jantan buat saya adalah bukunya yang terlucu dan murni komedi karena memang dipenuhi cerita ringan kebodohan sehari-hari. Buku paling garing sementara itu, adalah Radikus Makan Kakus.

Dimulai dari Marmut Merah Jambut, komedi yang ditawarkan di cerita-ceritanya, bukan cuma sekedar sesuatu yang bikin kita ketawa selama lima menit, terus setelah itu ya ketawa aja, atau lupa. Sejak Marmut Merah Jambu, kita ketawa lima menit, dan sepuluh menit kemudian mikir.

Personally, I prefer this kind of comedy. :))

Read the rest of this entry »

, , , , , , , , , , ,

21 Comments

Test Pack

Dan di sinilah saya, sepulang Monev PKM yang rasanya membuat saya nggak bertulang lagi. Dari detik acara berakhir sudah pengen cepet-cepet sampai di kosan buat leyeh-leyeh, tapi harus mampir ke minimarket buat beli-beli macem-macem, dan setelah sampai kosan pun malah beres-beres kamar yang acak adut bekas-bekas keributan persiapan. Habisnya saya nggak bisa istirahat dengan tenang kalau kamarnya berantakan. (pouty)

Jadi, sampai mana tadi saya bilang? Oh, iya, jadi di sinilah saya, dengan muka belepotan masker yang luntur akibat malah nangis baca novel.

test pack

I love you… because I want to.

Halah, padahal niatnya mau nyantai maskeran sambil baca setelah beberapa hari hidup nggak tenang gara-gara PKM. (rofl)

, , ,

8 Comments

Kau Memanggilku Malaikat

kau memanggilku malaikat cover

Pengarang

Arswendo Atmowiloto

Penerbit

PT Gramedia Pustaka Utama

“Bu, ada malaikat…”

Orang memanggilnya malaikat maut. Tapi baginya yang dia lakukan hanyalah menjemput manusia-manusia yang sudah menjelang ajalnya, bukan mencabut nyawa mereka. Dia hanya menunggu, hingga waktu mereka telah tiba, mendengarkan apapun yang ingin mereka katakan, karena manusia biasanya tiba-tiba saja memiliki banyak sekali hal yang untuk dikatakan pada saat-saat ini. Baginya itu bukan tugas, seperti halnya apakah manusia akan mengatakan angin bertugas ketika bertiup, atau ombak laut bertugas ketika bergelombang, baginya seperti itulah hidup sejak awal.

Semua, tanpa kecuali, akan dijemputnya ketika mereka mulai menunjukkan tanda-tanda kematian. Ia tak pernah merasakan apapun kepada semua yang dijemputnya, tak tahu apa itu arti kangen, apa arti air mata, hingga ia bertemu Di. Ia tak pernah bertanya apakah ada malaikat lain seperti dia, hingga seorang ibu suatu ketika berkata ingin menjadi malaikat seperti dirinya.

Di yang berkata pernah melihatnya di masa lalu, padahal ia yakin tak seorang manusia pun pernah melihatnya selain di saat mereka akan meninggal. Di yang tak juga pergi ke tempat “persinggahan” sebelum waktunya pergi ke tempat berikutnya, kemana orang-orang mati pergi, namun malah tetap berkeliaran bersama orang-orang yang dikenalnya semasa hidup. Di yang membuatnya merasakan penasaran, dan kangen.

Saya nggak terlalu bisa menangkap esensi sesungguhnya dari novel ini, sebenarnya.  Apakah sebatas monolog seorang malaikat maut, ketika bertemu anomali dalam kehidupan datarnya menjemput nyawa manusia, atau menyangkut daya hidup yang ditulis ibu Tesarini seolah menulis tesis. Ataukah bisa jadi juga ini adalah transformasi pertanyaan-pertanyaan manusia tentang malaikat, seperti apakah malaikat, apakah ia punya perasaan, apakah malaikat maut tak merasakan apa-apa ketika menjemput nyawa manusia, dan semacamnya. Atau justru menyangkut semuanya?

Saya tidak begitu mengerti, tapi entah kenapa menikmati membaca buku ini. :D Suka cara penulisnya bercerita. :-)

, , , , , , , , ,

4 Comments

Rahasia Kaum Falasha

rahasia kaum falasha cover

Pengarang

Mahardika Zifana

Penerbit

Edelweiss

Tempat bersembunyi paling aman untuk seekor kelinci adalah kandang macan.

Heri, seorang mahasiswa Monash University asal Indonesia tewas di Ethiopia saat sedang melakukan penelitian untuk disertasinya. Asistennya, Indra, yang ikut bersamanya dalam penelitian itu dikabarkan menghilang dan menjadi tersangka pembunuhan.

Kepergian Heri dan Indra ke Ethiopia ternyata bukan sekedar untuk melakukan penelitian untuk disertasi Heri, melainkan untuk melacak harta karun nabi Sulaiman beserta Tabut Perjanjian yang hilang. Semuanya berawal karena lima lembar manuskrip kuno yang ditemukan Indra yang merupakan seorang pedagang barang antik. Manuskrip tersebut mengisahkan kebenaran kisah Nabi Sulaiman as, Ratu Saba, dan anak mereka, Menelik, yang disebut-sebut sebagai leluhur dari kaum Beta-Israel di Ethiopia.

The Beginning of Trilogy…

, , , , ,

6 Comments

Ternyata Aku Sudah Islam

cover ternyata aku sudah islam

Pengarang

Damien Dematra

Penerbit

Gramedia Pustaka Utama

Saya masih ingat beberapa tahun lalu entah ketika saya masih SMP atau SMA, ada sebuah grup musik yang tiba-tiba menarik perhatian. Saya tidak tahu jenis musiknya apa, yang jelas liriknya religius dengan warna musik yang seperti tidak pernah saya dengan sebelumnya. Penampilan yang membawakan pun menarik perhatian karena keseluruhan dari mereka adalah orang asing.

Lagu yang ketika itu populer adalah Mazhab Cinta. Itu juga satu-satunya yang saya tahu sampai sekarang. :D Walaupun ummi mencoba membeli salah satu kasetnya, setelah mendengarkan beberapa ternyata saya tidak tertarik. :D Ya sudah, selesai begitu saja.

Beberapa bulan yang lalu buku ini saya temukan di kenduri bukunya Toga Mas. Keterangan di bawahnya menarik perhatian karena membawa lagi ingatan saya kepada saat pertama kali mengenal musik DEBU.

Dust on the Road…

, , , , , ,

8 Comments